BUMN Gula Berbagi Pengalaman Tingkatkan Kinerja

Terbit pada Selasa, 11 Agustus 2015

PTPN X Jadi Tuan Rumah Sharing Session BUMN Gula Se-Indonesia

SURABAYA, 12 JUNI 2015 – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bisnis pergulaan menggelar acara Sharing Session untuk berbagi pengalaman meningkatkan kinerjanya masing-masing, Jumat (12/6/2015). Semua BUMN gula mengikuti ajang ini, yaitu PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, VII, IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XIV, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia. Acara ini juga diikuti oleh PTPN III sebagai holding BUMN perkebunan serta dari Kementerian BUMN. Menteri BUMN Rini Soemarno hadir langsung memberi pengarahan ke seluruh jajaran BUMN gula se-Indonesia.

Kementerian BUMN menunjuk PTPN X sebagai tuan rumah acara tersebut. PTPN X diminta untuk membagi pengalaman melakukan mekanisasi kebun, revitalisasi pabrik gula, dan pemanfaatan produk hilir non-gula berupa bioetanol dari tetes tebu.

”Intinya, Menteri BUMN menginstruksikan kepada seluruh BUMN gula untuk bersinergi, bersama-sama berbenah meningkatkan produktivitas guna mencapai target swasembada gula pada tiga tahun mendatang,” ujar Dirut PT Perkebunan Nusantara X, Subiyono.

Para peserta dari seluruh pabrik gula (PG) se-Indonesia diajak mengunjungi kebun mekanisasi PG Watoetoelis dan revitalisasi PG Kremboong di Sidoarjo serta PG Gempolkrep yang terintegrasi dengan pabrik bioetanol di Mojokerto.

”Mekanisasi kebun membuat lebih efisien. Selain itu, bahan baku tebu bisa lebih bagus dan bisa memenuhi kualifikasi manis, bersih, segar. Namun, mekanisasi tidak mudah karena mayoritas lahan tebu milik petani, bukan milik PG. Perlu sinergi bersama,” ujarnya.

Total lahan di lingkungan PTPN X yang telah digarap dengan pendekatan mekanisasi masa tanam 2015/2016 mencapai 5.156,8 hektar terdiri atas 2.789,1 hektar lahan tebu sendiri dan 2.367,7 hektar lahan tebu rakyat, termasuk sebagian di wilayah PG Watoetoelis dan PG Kremboong.

Subiyono mengatakan, mekanisasi terbukti mampu menekan biaya garap. Di PG Watoetoelis, misalnya, tepatnya di Kebun Jedong Cangkring pada musim tanam 2013/2014, HPP gula sebelum penerapan mekanisasi sebesar Rp 8.764 per kilogram. Setelah mekanisasi, HPP gula bisa ditekan turun menjadi Rp 6.866 per kilogram.

Selain melihat praktik mekanisasi, seluruh jajaran BUMN gula se-Indonesia juga melihat hasil revitalisasi PG Kremboong. Di pabrik tersebut, PTPN X melakukan penggantian dari teknologi lawas menjadi teknologi generasi terbaru dengan peralatan ketel tekanan Tinggi, elektromotor, dan high gravity single curing HG.

Dengan revitalisasi itu, PG menjadi efisien dan lebih produktif. Harga Pokok Produksi (HPP) gula pun bisa ditekan. HPP gula di PG Kremboong pada tahun ini ditargetkan bisa turun menjadi Rp 6.525 per kilogram dari tahun lalu sebesar Rp 7.104 per kilogram. Adapun secara rata-rata di semua PG milik PTPN X, HPP ditargetkan turun menjadi RP 5.717 per kilogram dari tahun lalu sebesar RP 6.017 per kilogram.

”Beberapa pabrik gula yang telah kami revitalisasi, HPP kami yakin bisa turun dengan cukup signifikan. Di PG Tjoekir (Jombang) misalnya bisa turun menjadi Rp5.800 per kilogram dari sebelumnya Rp9.985 per kilogram. Lalu di PG Djombang Baru turun dari Rp 9.700 per kilogram menjadi Rp 6.409 per kilogram. Dengan HPP yang rendah, profitabilitas bisa terjaga. Petani untung, pabrik juga untung,” ujar Subiyono.

Adapun di PG Gempolkrep, seluruh jajaran BUMN gula bakal melihat praktik integrasi industri gula yang bisa mengoptimalkan seluruh produk turunan tebu. Di PG Gempolkrep sudah berdiri pabrik bioetanol yang mengolah tetes tebu menjadi bioetanol dengan kapasitas 30 juta liter per tahun.

Sekretaris PTPN X Adi Santoso menambahkan, selama empat tahun terakhir, PTPN X sudah menginvestasikan dana Rp 1,54 triliun untuk melakukan revitalisasi di PG Kremboong, PG Tjoekir, PG Djombang Baru, PG Mritjan, dan PG Modjopanggoong.

”Di sejumlah PG, hasil revitalisasi akan terasa mulai tahun ini karena revitalisasi dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu produksi. Dengan revitalisasi, kami juga bisa menurunkan konsumsi energi Kami bisa menekan biaya bahan bakar minyak tambahan untuk operasional pabrik dari Rp 48 miliar pada 2008 menjadi Rp 1,78 miliar pada 2014,” ujarnya.

Dengan efisiensi energi, lanjut Adi, PTPN X juga bisa menyisihkan ampas tebu untuk diolah menjadi listrik. Ada 300.000 ton ampas tebu per tahun yang bisa diolah, sehingga tahun ini PTPN X juga menyiapkan program co-generation yang mengolah ampas tebu menjadi listrik.

”Kami merintis produksi listrik melalui program co-generation di tiga pabrik, yaitu PG Ngadiredjo Kediri (20 Megawatt/MW), PG Tjoekir Jombang (10 MW), dan PG Gempolkrep (20 MW).  Pendanaannya bersumber dari suntikan pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN),” kata Adi.

Posted in Press Release

Terdapat 0 komentar