DPR Desak Pertamina Beli Bioetanol Lokal

Terbit pada Rabu, 11 Maret 2015

MOJOKERTO, 16 Februari 2015 - Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak pemerintah untuk menerapkan secara konsiten Peraturan Menteri ESDM 25/2013 tertanggal 28 Agustus 2013 tentang Penyediaan Pemanfaatan dan Tata Niaga BBN untuk tiga sektor, yaitu transportasi PSO (public service obligation), transportasi non-PSO, dan industri-komersial. Peraturan menteri itu mewajibkan pencampuran (blending) 2 persen bioetanol ke bahan bakar minyak (BBM).



"Kami sudah berkoordinasi dengan Komisi VII yang membidangi persoalan energi untuk meminta Kementerian ESDM agar menerapkan mandatory biofuel secara konsisten. Kami juga menyurati Pertamina untuk membeli bioetanol lokal produksi BUMN sendiri," ujar Anggota Komisi VI DPR RI Abdul Wachid saat meninjau pabrik bioetanol milik PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Mojokerto, Senin (16/2). Komisi VI membidangi permasalahan BUMN.



Dia mengatakan, pengembangan energi terbarukan khususnya bioetanol menjadi wilayah lintas kementerian, yaitu Kementerian ESDM dan Kementerian BUMN. BUMN yang terlibat adalah Pertamina sebagai pembeli yang akan mencampur bioetanol ke BBM. Selain itu, ada BUMN penjual seperti PT Perkebunan Nusantara yang merupakan induk usaha Enero. Enero memproduksi bioetanol dari limbah cair tebu alias tetes tebu (molasses).



Abdul Wachid menjelaskan, ada aturan subsidi Rp 3000 per liter untuk bioetanol yang sudah disetujui DPR. Namun, kebijakan itu tidak akan efektif jika Pertamina tidak membeli bioetanol lokal.



"Saya menyesalkan bioetanol lokal tidak laku, malah diekspor ke Filipina dan Singapura. Dengan penerapan mandatory yang konsisten, Pertamina mesti membeli bioetanol lokal," kata dia.



DPR juga mendorong agar pabrik gula tidak hanya menghasilkan gula, tapi terintegrasi dengan memproduksi produk samping lain seperti bioetanol. "Seperti di Brasil, pabrik gula sudah terinetgerasi. Integrasi juga untuk meningkatkan pendapatan petani karena petani bisa mendapatkan nilai tambah dari penjualan tetes tebu dengan harga baik ketika akan diolah menjadi bioetanol," kata Abdul Wachid.



Dirut PTPN X Subiyono mengatakan, industri gula harus didorong terintegrasi untuk mengoptimalkan produk hilir seperti bioetanol. "Harga gula fluktuatif. Masa depan industri ini ada di produk turunan nongula," ujarnya.



Dia mengatakan, selama ini pabrik bioetanol milik PTPN X lebih banyak menjual produknya ke luar negeri karena pembelian dari Pertamina sangat minim. Karena itu, dia berharap mandatory bioetanol diterapkan konsisten. "Saat ini harga bioetanol di pasar internasional menurun jadi US$ 500 per kiloliter seiring penurunan harga minyak. Karena itu kami berharap Pertamina bisa merealisasikan mandat pencampuran 2% bioetanol ke BBM sesuai Permen ESDM. Apalagi sudah ada aturan subsidi Rp 3000 per liter untuk pembelian bioetanol," jelas Subiyono.



Bila mandatory dipatuhi 1% saja, maka butuh 300.000 kiloliter bioetanol per tahun untuk campuran BBM. Di Indonesia sendiri cuma ada tiga pabrik bioetanol dengan kapasitas produksi 120.000 kiloliter per tahun. "Kalau mandatory bioetanol diterapkan, pabrik gula yang lain akan semangat bangun bioetanol karena pasarnya besar," kata Subiyono.

 

Seperti diketahui, PTPN X mempunyai pabrik bioetanol yang terintegrasi dengan Pabrik Gula Gempolkrep di Mojokerto, Jawa Timur. Produksi bioetanolnya berkualitas tinggi dengan tingkat kemurnian hingga 99,5 persen yang sangat ramah lingkungan dan memiliki angka oktan tinggi, yaitu RON (Research Octane Number) 117.



Kapasitas produksi pabrik bioetanol itu mencapai 30.000 kiloliter per tahun. Bioetanol diolah dari limbah cair tebu alias tetes tebu (molasses). Sekitar 120.000 ton tetes tebu untuk bahan baku bioetanol disuplai dari pabrik gula milik PTPN X.



Bietanol sendiri merupakan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang ramah lingkungan. Bioetanol juga relatif tidak membawa polutan, kecuali CO2 dan air. "Saat ini kami juga mulai menjual produk turunan bioetanol berupa CO2 atau karbondioksida," ujarnya.

Posted in Press Release

Terdapat 0 komentar