Manfaatkan Lahan Hutan untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Terbit pada Senin, 31 Juli 2017

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mendorong pemanfaatan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam kunjungannya ke lokasi Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) di Blok Gading II kawasan hutan petak Desa Brani Wetan Kecamatan Maron, Menteri LHK meninjau pemanfaatan lahan oleh petani.

”Dalam kegiatan ini kami banyak melibatkan BUMN. Program Perhutanan Sosial ini adalah program untuk memberikan akses hutan Perhutani bagi masyarakat di sekitar hutan atau yang dulunya dikenal sebagai LMDH (Lembaga masyarakat Desa Hutan),” ujar Siti Nurbaya. Jika sebelumnya aturan mainnya memberikan lebih banyak keuntungan ke Perhutani, sekarang tidak lagi. Masyarakat sekitar hutan didorong agar bisa mendapatkan pendapatan lebih baik dan nantinya akan lebih sejahtera.

Ia menuturkan, program Perhutanan Sosial ini sebenarnya berlaku di seluruh Indonesia. Namun catatan kementerian menunjukkan dari aspek lingkungan, tata kelola hutan dan partisipasi masyarakatnya, Jatim paling baik.

Mengenai tanaman yang akan ditanam di lahan kawasan hutan sosial tersebut dikatakan Siti Nurbaya tentunya memperhitungkan tanaman yang potensial. ”Masyarakat yang tahu apa yang harus dia tanam. Apakah padi, jagung, tembakau kita menyesuaikan. Yang penting menanamnya dalam satu kelompok itu diatur. Ada pola tanamnya. Ada kalender tanamnya,” tutur Siti.

Sementara itu, PT Perkebunan Nusantara (PTPN X) mendapatkan dua tugas dalam pengelolaan kawasan hutan sosial tersebut. ”Pertama akan men-off take produk tembakau di sini. Kedua, masih terkait temabau, PTPN X akan melakukan kawalan budidaya,” tutur Direktur Utama PTPN X, Dwi Satriyo Annurogo.

Untuk kawalan budidaya, ia mencontohkan tanaman tembakau di lahan tersebut masih banyak yang dicampur dengan tanaman lain seperti cabai. ”Kalau kondisi seperti ini kurang ideal. Tembakau harusnya benar-benar tembakau saja. Karena kalau dengan seperti ini potensi produktivitas bisa turun sampai 40 persen. Masih ada peluang untuk ditingkatkan produktivitasnya,” ujar Dwi Satriyo. (CIN_Sekper, FIR_Sekper)

Posted in Berita

Terdapat 0 komentar

Silahkan tambahkan komentar