Presiden Jokowi Dukung Hilirisasi Produk Tebu Non-Gula

Terbit pada Selasa, 11 Agustus 2015

Industri Gula Terintegrasi dengan Produksi Bioetanol dan Listrik

 

MOJOKERTO, 21 Mei 2015: Presiden Joko Widodo meminta pabrik gula BUMN untuk mengintensifkan hilirirasi produk tebu nongula. Dengan mewujudkan industri tebu yang terintegrasi, pabrik gula tidak hanya memproduksi gula, tapi juga bioetanol dan listrik dari olahan limbah tebu.

Jokowi mengatakan, pemerintah berkomitmen mendukung pengembangan industri gula terintegrasi. Tahun ini, melalui Kementerian BUMN, pemerintah mengucurkan dana penyertaan modal negara (PMN) Rp3,5 triliun khusus untuk pabrik gula milik BUMN.

 

"Kita ingin swasembada gula 2018. Tadi dilapori, di Brazil, pabrik gula juga memproduksi bioetanol, listrik, CO2, dan lain-lain. Pemerintah mendukung, PMN untuk industri gula Rp3,5 triliun," ujar Presiden Jokowi dalam kunjungan ke Pabrik Gula Gempolkrep, Mojokerto, milik PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X), Kamis (21/5).

 

Jokowi mengatakan, berbagai perbaikan menuju industri gula terintegrasi juga akan meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan tambahan produk nongula, bagi hasil ke petani tebu juga bisa meningkat. "Nanti akan ada tambahan pendapatan bagi petani dari itu," ujar Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga meminta Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel yang mendampingi untuk mengumumkan harga patokan petani (HPP) gula. Mendag mengumumkan bahwa HPP gula 2015 ditetapkan sebesar Rp8.900 per kilogram, meningkat dibanding HPP 2014 sebesar Rp 8.500.

 

"Saya minta HPP itu ada yang bertanggung jawab, Menteri BUMN mengawal dan bertanggung jawab untuk membelinya (jika harga lelang berada di bawah HPP)," kata Jokowi yang langsung disambut tepuk-tangan para petani.

 

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) mengatakan, tahun ini pihaknya menargetkan produksi gula 507.714 ton, meningkat sebesar 8,48 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 468.003 ton.  PTPN X saat ini memiliki 11 pabrik gula (PG) di Jawa Timur yang tersebar di Sidoarjo, Mojokerto, Kediri, Jombang, Nganjuk, hingga Tulungagung.

 

Dia menambahkan, secara berkelanjutan PTPN X terus melakukan revitalisasi PG. Selama 2010-2014, total Rp1,44 triliun telah diinvestasikan PTPN X untuk membenahi pabriknya. Misalnya, PG Djombang Baru (Jombang) yang ditingkatkan kapasitasnya dari 2.400 ton tebu per hari (ton cane per day/TCD) menjadi 3.000 TCD, PG Tjoekir (Jombang) dari 3.600 TCD menjadi 3.900 TCD, dan PG Kremboong (Sidoarjo) dari 1.500 TCD menjadi 2.500 TCD. "Hasil dari penambahan kapasitas itu bisa dirasakan pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang dengan kinerja yang akan terus meningkat. Tidak hanya dari sisi peningkatan produksi gula, tapi juga efisiensi energi, hilirisasi produk, dan perbaikan kualitas gula," ujarnya.



Subiyono menambahkan, upaya peningkatan kinerja terus dilakukan pada tahun ini. Perusahaan bakal berinvestasi Rp 1,125 triliun yang bersumber dari dana penyertaan modal negara (PMN) Rp 975 miliar dan sisanya dari kas internal serta pinjaman perbankan. Dana itu akan digunakan untuk peningkatan kapasitas sejumlah pabrik, pembangunan pabrik bioetanol, co-generation untuk produksi listrik, dan pabrik turunan bioetanol. "Selain peningkatan produksi gula, kami semakin fokus untuk mengoptimalkan produk hilir tebu yang lain, terutama bioetanol dan produksi listrik melalui co-generation. Saat ini hampir semua PG maju di Thailand, India, atau Brazil sudah melakukannya. Indonesia tidak boleh ketinggalan mewujudkan PG yang terintegrasi dari hulu ke hilir," kata Subiyono.

 

Dengan dana PMN, PTPN X akan membangun pabrik bioetanol di kompleks PG Ngadiredjo (Kediri) dengan kapasitas 100 kiloliter per hari. Pabrik bioetanol itu mengolah limbah cair tebu (tetes tebu/molasses) menjadi bioetanol untuk campuran BBM. Saat ini, PTPN X sudah mempunyai satu pabrik bioetanol yang telah beroperasi di Mojokerto berkap. "Produksi tetes tebu kami cukup banyak. Selama ini kami jual ke produsen bumbu masak. Dengan pabrik bioetanol yang sudah beroperasi di Mojokerto dan sedang akan dibangun di Kediri, kami bisa hasilkan nilai tambah yang lebih baik daripada hanya dijual mentahannya ke produsen bumbu masak," ujar Subiyono.

 

Sedangkan proyek co-generation yang mengolah ampas tebu menjadi listrik dilaksanakan di tiga PG, yaitu PG Ngadiredjo (20 Megawatt/MW), PG Tjoekir (10 MW), dan PG Gempolkrep (Mojokerto) (20 MW).



“Dengan bisa memroduksi listrik untuk dijual ke PLN, bioetanol untuk campuran BBM, serta peningkatan kapasitas, pabrik gula bisa memberikan tambahan pendapatan bagi hasil ke petani. Kami juga bisa membuktikan bahwa optimalisasi produk hilir tebu di luar gula tetap tidak akan mengganggu fokus peningkatan produksi gula untuk mencapai swasembada," pungkas Subiyono.

Posted in Press Release

Terdapat 1 komentar

Ganjar said on May 27, 2016
Langkah yang bagus, ada dua hal penting yang harus diperhatikan untuk menjadikan Indonesia swasembada gula, yaitu 1. Manajemen yang bebas KKN, 2.Pembangunan mesin dan pabrik gula. Langkah ini sudah dirintis oleh Dahlan Iskan dan akan diteruskan oleh Pemerintah.